Oleh: Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, Semarang

Transpublik — Jika kita memasuki Desa Sanur, Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, tidak mengira berada di wilayah perbatasan. Tepatnya berbatasan dengan Negara Bagian Sabah, Malaysia. Rata-rata daerah perbatasan kurang dapat perhatian, sehingga kehidupan warganya kurang sejahtera. Seperti layaknya desa di Jawa yang rata-rata lebih makmur, tergambar di Desa Sanur. Kemakmuran Desa Sanur tergambar dari tersedianya dua kantor bank, yaitu Bank BRI dan Bank BPD Kaltimtara yang dilengkapi dengan mesin ATM.

 

 

 

 

 

 

 

Untuk menjangkau Desa Sanur dapat melalui Malinau atau Seimanggaris. Paling mudah dari Malinau melintasi jalan pararel perbatsan sejauh 95 km dapat ditempuh 2-3 jam. Jika melalui Seimanggaris menggunakan kapal penyeberangan dari Pulau Nunukan.

Sejak tahun 1997 dimulai hunian baru di satuan pemukiman sebagai daerah tujuan transmigran dari Pulau Jawa. Kawasan transmigrasi ini merupakan bagian dari Proyek Lahan Gambut Satu Juta hektar kala itu di era Pemerintanhan Presiden Soeharto. Proyek ini digagas oleh Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan (PPH) Siswono Yudo Husodo.

Sejak penyerahan tahun 2001 memilih nama menjadi Desa Sanur. Penduduk Desa Sanur saat ini sebanyak 637 kepala keluarga dan 2.604 penduduk dipimpin Kepala Desa Fajar Wiyono yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Masyarakat Desa Sanur tidak hanya berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun ada yang dari Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur.

Selain terdapat pasar tradisional dan rumah makan yang jumlahnya lebih dari lima, juga tersedia fasilitas pendidikan mulai PAUD, TK, SD, SMP hingga SMK. Untuk berolah raga tersedia lapangan futsal selain lapangan sepakbola. Di samping Kantor Desa, terdapat Kantor Pos dan Pos Pemadam Kebakaran. Untuk keperluan beribadah, tersedia empat tempat ibadah, yakni dua mesjid dan dua gereja.

Pasar tradisional menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari selain verasal dari setempat juga ada barang dari Malinau atau dari negara tetangga Tawao, Sabah, Malaysia. Telur dan sebagian kue kering dari Malinau. Bahan pangan cepat saji, kue kering, telur dan gas berasal dari Tawao. Ikan laut dari Tanjung Selor dan udang dari sungai setempat juga sayuran, tahu dan tempe. Ada industri rumah tangga yang membuat tahu dan tempe di Desa Sanur. Bagi tamu yang akan bermalam tersedia penginapan Dwi Pura Alia. Jalan desa sudah beraspal.

Aktivitas keseharian masyarakat di Desa Sanur, selain ada yang berdagang juga berkebun tanaman sawit. Warga yang sudah lama di pasti memiliki lahan perkebunan sebagai transmigran. PT Karang Juang Hijau Lestari yang beroperasi. Sedangkan pendatang biasanya bekerja di perkebunan kelapa sawit atau membeli lahan milik warga transmigran yang meninggalkan Desa Sanur. Pendapatan rata-rata per bulan pekerja di perkebunan kisaran Rp 4 juta–5 juta sebulan.

Aktivotas warga hingga jam 23.00, masih ada warung kopi yang buka. Penerangan malam sudah ada listirk yang mengalir ke setiap rumah warga.

Layanan transportasi

Sejak tahun 2012, ketika masih menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Timur, sudah mulai dilayani Bus Damri dengan rute Malianu-Mensalong-Salang. Tarif yang dikenakan sekarang Rp 50 ribu per orang. Pada saat bersamaan berangkat setiap jam 08.00 dari Malinau maupun Salang. Tiba di tujuan jam 11.00 dan kembali lagi jam 14.00. Cuma setiap hari Selasa dan Jumat, layanan Bus Damri dilarang tidak operasi karena alasan tertentu. Sebenarnya sangat disayangkan terhenti operasi pada hari itu, warga memerlukan layanan Bus Damri yang tarifnya relatif murah. Perlu ikut campur tangan Pemkab. Nunukan, Pemkab. Malinau dan Pemprov. Kaltara untuk bisa selesaikan adanya larangan ini.

Jaringan jalan pararel perbatasan tersedia dua lajur cukup lebar dan sudah beraspal semua. Beberapa ruas jalan sedang dikerjakan perawatan rutin dan pembuatan drainase. Angkutan logistik banyak menggunakan aliran sungai. Kecuali angkutan kelapa sawit, karena di sepanjang jalan ini terdapat ribuan hektar perkebunan kelapa sawit yang diusahakan swasta. Ada juga yang diusahakan warga setempat yang hasilnya di jual ke perusahaan perkebunan kepala sawit.

Bagi warga yang berada di daratan Kabupaten Nunukan untuk menuju Pulau Nunukan (pusat ekonomi dan pemerintahan) melalui fasilitas jalur sungai. Pelabuhan Aki Betawol di Desa Pembeliangan di tepi sungai Ular untuk penumpang dan Pelabuhan Apas di tepi Sungai Apas untuk logistik.

Informasi yang didapat dari Kepala Desa Sanur, Fajar Wiyono, barang yang di Pelabuhan Apas adalah barang yang dibeli di toko-toko yang berada di Kota Nunukan yang telah dicek oleh petugas Bea Cukai dan Pos TNI Angkatan Laut di Pulau Nunukan. Tidak ada kapal yang memuat logistik dari Tawau, Sabah, Malaysia.

Pelabuhan Apas harus dilengkapi dengan kantor administrasi pengelola pelabuhan beserta sejumlah personil yang mengelola. Data barang perlu diperiksa dan dicata petugas pelabuhan yang berkompeten layaknya pelabuhan yang lain.

Ada permintaan warga Desa Sanur untuk membuka layanan baru Bus Damri rute Salang-Sei Manggaris yang sekarang fasilitas jalan raya sudah mulus. Jalan raya tersebut merupakan bagian dari ruas jalan pararel perbatasan di Kalimantan Utara. Warga menganggap lebih murah jika sudah ada layanan Angkutan Perintis hingga Sei Manggaris dan dilanjut melaui Pelabuhan Penyeberangan Sei Manggaris menggunakan kapal penyeberangan kapasitas besar hingga Pulau Nunukan ketimbang yang sekarang lewat Pelabuhan Akil Betawol dengan speedboat.

Jaringan jalan pararel perbatasan di desa Sanur sudah tersedia dua lajur cukup lebar dan sudah beraspal semua

Sudah selayaknya Kementerian Perhubungan menyediakan fasilitas layanan transportasi umum, baik angkutan sungai, penyeberangan maupun darat di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Utara. Tidak hanya fasilitas saja, juga dapat mendidik SDM berkualitas untuk awak moda transportasi dan pengelola simpul transportasi yang berkompetensi. Supaya keselamatan bertransportasi tetap terjaga.

Desa Sanur sudah menunjukkan keteguhan para transmigran mengelola dan memanfaatkan lahan yang diberikan pemerintah menjadi desa yang makmur di tapal batas. Tidak hanya sebatas itu, layanan prasarana dan sarana transportasi juga harus turut menyertainya agar mobilitas orang dan barang juga semakin lancar. Tidak sekedar ada jalan mulus tetapi ditambah transportasi umum yang murah. Kemakmuran ini nantinya tidak hanya dirasakan warga di Desa Sanur, tetapi dapat diikuti warga desa-desa lainnya di sepanjang jalan pararel perbatasan di Kalimantan. Boleh saja disebut daerah perbatasan, bukan berarti fasilitas layanan transportasi juga ikut terbatas. []

Tags:
0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

COPYRIGHT ©2020 TRANSPUBLIK, ALL RIGHT RESERVED

Log in with your credentials

Forgot your details?